7 TRIK FOLLOW UP CALON PEMBELI

7 TRIK FOLLOW UP CALON PEMBELI SUPAYA GAK TERUS-TERUSAN PHP (PEMBERI HARAPAN PALSU)!

Salah satu topik bahasan menarik di buku Gara-Gara Facebook, selain bagaimana cara membangun authority & personal branding, step by step bangun digital tribes, 13 teknik jualan di Facebook, dan asumsi-asumsi terselubung yang mesti disematkan di setiap status Facebook

.... Saya pun membahas tentang apa yang harus dilakukan dalam mengubah calon pembeli jadi pembeli (gak cuma order, tapi juga transfer).

Inilah pentingnya kita melakukan teknik follow up.

"80% Pembelian membutuhkan 5 kali follow up, tapi 44% pebisnis online berhenti saat penawaran pertama..." (Hubspot)

Bayangkan....

Ada 44% pebisnis online yang akan mengalami kegagalan dalam 80% penjualan yang mereka lakukan. Bayangkan, sebanyak itu. Apakah Anda ingin membiarkannya hilang begitu saja? Tentu tidak, bukan?

Oleh karena itu, diperlukan skill follow up agar mereka benar-benar beli dan transfer uangnya ke kita.

Caranya?

Anda bisa lakukan 7 trik berikut ini:

(1). AJUKAN PERTANYAAN PILIHAN

Banyak orang gagal memfollow up, karena mereka salah bertanya, misalkan:

"Mba, jadi beli kerudungnya enggak?". Jawab: enggak.
"Mas, jadi beli kaosnya enggak?". Jawab: enggak

Itupun mending kalau dijawab, kebanyakan malah nggak dibalas sama sekali. Pernah ngalamin?

Makanya, Anda perlu mengajukan pertanyaan pilihan yang jawabannya pasti "YA". Misalkan:

"Mba, orderan kemarin, mau dikirim pake JNE atau TIKI?"
"Mas, orderan kemarin, mau dikirim hari ini atau besok?"
"Bu, orderan kemarin, mau ditransfer ke BCA atau Mandiri?"

Pola ini memiliki rumus:

"Mas/Mba, orderan yang kemarin, mau [sugesti] ( x ) atau ( y )?"
Asumsikan Pasti Beli

(2). ASUMSIKAN PASTI BELI

Ini yang sering terjadi pada para penjual online. Mereka mengasumsikan calon pembelinysa tidak jadi beli. Maksudnya?

Asumsinya pun dinyatakan secara terang-terangan, persis seperti kasus sebelumnya: "Mba, jadi beli kerudungnya enggak?", "Mas, jadi beli kaosnya enggak?".

Ya jelas, pertanyaan tersebut diasumsikan bahwa si calon pembeli boleh beli boleh tidak. Terus, gimana caranya?

Ya gunakan asumsi terselubung. Misalkan:

"Oh ya Mba, sebelum transfer, masih ada yang ingin ditanyakan mengenai produknya?". Asumsinya, dia bakalan transfer.

"Oh ya Mas, kira-kira mas rencana mau transfer kapan ya?". Asumsinya, dia bakalan transfer. Cuma, kapan?

"Oh ya Mas, karena kemarin mas sudah tertarik ikut pelatihannya, Saya penasaran, kira-kira mas mau selesaikan pembayarannya siang ini atau sore?". Asumsinya, dia bakalan bayar. Cuma, mau bayar siang atau sore?

"Oh ya Mas, karena sebelumnya mas udah tertarik ikut pelatihannya, sebelum transfer, Saya kepingin tahu, apakah mas udah tahu seberapa besar manfaat yang mas dapatkan setelah join di pelatihan ini?. Wow, asumsinya ditumpuk-tumpuk. Silakan analisa sendiri. hehe...

(3). TANYAKAN ALASAN BELI

Cara ini masih memanfaatkan asumsi pasti beli. Karena ketika kita tanya kenapa mereka mau beli di kita, maka mereka cenderung menjawab, "karena.... bla bla bla", seperti yang sudah Saya jelaskan di bab sebelumnya.

Saat mereka mengungkapkan alasannya, artinya mereka sudah benar-benar setuju untuk beli produk kita. Paham?

Misalnya:

"Mba, kalau boleh tahu, kenapa ya pengen beli produknya dari Saya, bukan dari yang lain?"

"Mas, kalau boleh tahu, kenapa mas tertarik beli produk ini?"
Kebayang?

Jadi, kenapa Anda mau beli buku-buku Saya yang lainnya selain buku #GaraGaraFacebook? ^_^

(4).  TUNJUKKAN TESTIMONI

Dengan Anda memberikan testimoni, entah itu screen shoot  gambar atau cerita dari pembeli produk Anda sebelumnya, akan membuat calon pembeli semakin yakin dengan  produk Anda. Terkadang, mereka menunda beli atau transfer, bukan karena apa-apa, melainkan kurang yakin dan banyak pertimbangan. Tapi ketika Anda tunjukkan testmoni-tesmimoninya, pastinya mereka akan semakin yakin untuk beli produk Anda.

(5). TAWARKAN BANTUAN

Ini adalah cara yang paling sering Saya gunakan khususnya saat memfollow up calon pembeli lewat email. Alhasil, gara-gara cara ini konversi penjualan Saya dari order ke transfer melesat hingga 65%. Karena berdasarkan pengalaman kawan-kawan Saya, mereka hanya mendapatkan 35-45% saja.

Caranya, Anda bisa bertanya kepada calon pembeli Anda, misalnya:

"Mas, apakah mas butuh bantuan?"

"Mba, ada yang ingin ditanyakan terkait produk yang kemarin?"

Kebayang?

(6). BAYANG-BAYANGI TERUS

Sebenarnya, cara ini cukup efektif untuk membuat orang lain ingat dengan orderan. Caranya? Kita hanya sekedar membuat orang aware bahwa mereka sudah pernah janji untuk mau transaksi dengan kita. Misalnya, Anda bisa berikan like di statusnya, mengomentari statusnya, dan share statusnya. Ingat, Anda nggak harus mengingatkan ia untuk transfer, cukup bangun intreraksi seperti biasa saja. Orang yang punya otak, ketika melihat nama Anda pun, akan langsung sadar bahwa mereka telah berjanji untuk melakukan pembelian. Kebayang?

Nanti, ketika Anda gunakan FB Ads, tepatnya retargeting, Anda bisa bayang-bayangi mereka dengan cara ini. Okey?

(7). TELEPON LANGSUNG

Ini adalah solusi terakhir dalam melakukan follow up calon pembeli. Jika sebelumnya Anda sudah memiliki nomor telepon mereka, maka cobalah follow up dengan cara telepon langsung. Cara ini terbukti cukup ampuh untuk menentukan apakah mereka mau beli atau tidak. Karenanya, goal dari cara ini adalah satu, yakni mendapatkan kepastian apakah dia mau beli atau tidak. Setidaknya, ketika Anda sudah mendapatkan jawaban dan kepastian, Anda bisa lanjut memfollow up calon pembeli lainnya. Sip?

Itulah 7 trik follow up yang bisa Anda gunakan saat memfollow up calon pembeli yang sempat menunda untuk bertransaksi dengan Anda. Silakan coba. Semoga bermanfaat...

========
Dewa Eka Prayoga

Komentar